Selasa, 31 Maret 2009

Bakti Sosial Muara Kapuk

Kesehatan, Sebuah Oasis atau Fatamorgana Bagi Masyarakat?
Muara Kapuk, Jakarta 2 Maret 2008.
Bakti Sosial "Kopassus Peduli".

Kesehatan merupakan suatu kebutuhan dasar dari manusia, kebutuhan dasar yang boleh dibilang mutlak dan dapat menjadi absolut nilainya, karena tanpa kesehatan semua yang ada dalam kehidupan kita akan menjadi tidak berarti, akan tetapi dengan kesehatan yang baik, maka semua yang ada dalam kehidupan kita dapat menjadi lebih indah untuk dinikmati dan dijalani.
Meskipun kesehatan merupakan suatu hal yang sangat penting, akan tetapi banyak diantara kita yang kurang memperhatikan kesehatan, baik karena satu ataupun juga hal yang lainnya, dimana pada satu sisi ada mereka yang kurang memperhatikan kesehatan mereka karena kesibukkan kerja yang mereka jalani sehingga mereka meletakkan kesehatan sebagai prioritas nomor sekian dari kegiatan mereka, mereka menganggap kesehatan sebagai suatu hal yang tidak mereka perlu perhatikan karena mereka berpendapat bahwa uang atau prestasi berada diatas dari kesehatan mereka sendiri, mereka berpendapat bahwa dengan posisi dan uang yang mereka miliki, mereka dapat membeli semuanya termasuk juga kesehatan, memang hal ini ada benarnya, dimana bila kita sakit dan memiliki uang maka kita dapat mendapatkan perawatan yang terbaik yang dapat kita dapatkan, akan tetapi betapa banyak uang yang kita miliki akan menjadi tidak berarti bila kita menjadi sakit. Di lain pihak ada mereka yang tidak dapat memperhatikan kesehatan mereka karena mereka tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan yang baik sehingga mereka terpaksa mengabaikan kesehatan mereka sebagai prioritas nomor sekian pula dalam kehidupan mereka karena kesehatan menjadi barang mewah bagi mereka, sehingga sulit mereka jangkau dengan kemampuan ekonomi yang mereka miliki, dimana akhirnya mereka dari pada berusaha mendapatkan perawatan kesehatan mereka lebih baik berusaha mendapatkan uang yang lebih banyak untuk menyokong kehidupan mereka. Sebagian lagi dari masyarakat merasa kesehatan bukan menjadi masalah bagi mereka, karena dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang mereka miliki, mereka tidak mengerti apa kepentingan dari kesehatan bagi diri mereka, yang mereka ketahui adalah mereka tidak memiliki keluhan apa-apa jadi mereka sehat saja, dan mereka hanya berusaha untuk mendapatkan perawatan kesehatan bila mereka merasakan ada yang tidak nyaman dalam diri mereka, bagi mereka yang lebih penting adalah bagaimana mereka dapat menyambung hidup mereka sehari-hari tanpa mereka merasa perlu untuk berpikir tentang hal lainnya, karena mereka tidak mengerti bahwa tanpa adanya kesehatan maka mereka juga tidak akan bisa bekerja dengan baik, dan akhirnya mereka juga akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan uang untuk menyambung kehidupan mereka, bagi mereka yang penting bisa makan setiap hari sudah cukup, dan mereka berpikir mereka sudah cukup sehat.
Jadilah kesehatan itu merupakan suatu oasis atau fatamorgana bagi masyarakat di lingkungan kita, disatu sisi mereka yang berlebihan uang dan menderita sakit merasa bahwa kesehatan adalah suatu oasis yang perlu mereka kejar setelah mereka berusaha sekuat tenaga membangun mimpi mereka sehingga mereka melupakan kesehatan mereka, sehingga pada saat mereka sedang sakit, mereka baru sadar akan pentingnya kesehatan bagi mereka, sehingga mereka begitu merindukan kesehatan tersebut dan berusaha untuk mengejar kesehatan itu setinggi-tingginya dan sekuat yang mereka dapat kerjakan, seperti seorang pengelana yang merindukan oasis di padang pasir. Akan tetapi di sisi lainnya, bagi mereka yang hanya memiliki kemampuan untuk bertahan hidup saja, kesehatan tersebut merupakan suatu fatamorgana yang sulit mereka capai dan mereka dapatkan, sehingga pada saat mereka menderita sakit karena ketidak pedulian mereka terhadap kesehatan ataupun juga karena ketidak mampuan mereka untuk mendapatkan suatu perawatan dan pelayanan kesehatan yang cukup layak, kesehatan menjadi suatu fatamorgana untuk mereka yang hanya terdapat dalam mimpi saja, karena terlalu mewah dan mahal untuk mereka dapatkan, dan mereka hanya dapat bermimpi untuk mendapatkan kembali kesehatan mereka.

Bakti Sosial "Kopassus Peduli" di Kapuk Muara.
Kebutuhan masyarakat yang tinggi terhadap kesehatan terutama pada mereka yang memiliki kemampuan ekonomi yang kurang, tampak jelas sekali pada pelaksanaan Bakti Sosial yang diadakan oleh Kopassus di daerah Kapuk Muara pada tanggal 2 Maret 2008 kemarin ini, dimana tampak sekali masyarakat sangat antusias dan sangat membutuhkan perhatian terhadap perawatan kesehatan yang mereka dalam keadaan biasa akan cukup sulit untuk mendapatkannya, hal ini tampak sekali dalam banyaknya kasus-kasus kesehatan yang tidak tertangani oleh petugas kesehatan setempat atau fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan tersebut, sehingga akhirnya menjadi berat dan parah, misalnya ada seorang warga yang mendapat kecelakaan dan mengalami cidera pada tulang punggungnya, dia harus menunggu sampai 2 bulan lamanya, karena dia tidak memiliki uang untuk berobat, dan juga usaha dia berobat ke Rumah Sakit setempat kurang mendapatkan perhatian karena dia adalah orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar secara penuh (Gakin), baru kemudian pada saat Bakti Sosial ini dia dapat mendapatkan bantuan untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan sehingga dapat diharapkan untuk memperoleh kembali kesehatannya.
Kasus penyakit yang sebenarnya ringan akan tetapi karena dibiarkan sehingga menjadi berat banyak di alami di dalam masyarakat yang datang untuk berobat ke Bakti Sosial pengobatan gratis ini, banyak pula penyakit yang dibiarkan karena kurangnya pengetahuan dari penderita itu sendiri, sebagai contohnya banyak kita temukan mereka yang menderita penyakit paru-paru Tuberculosis (TBC), yang sudah menjadi berat, dimana seharusnya hal ini tidak terjadi, ketika kita menanyakan mengapa mereka tidak berobat, banyak dari mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai uang untuk berobat, karena meskipun ada paket berobat gratis untuk para penderita Tuberculosis (TBC) dari pemerintah, akan tetapi tetap diperlukan sedikit uang untuk berobat ke Puskesmas, dimana sedikit uang inilah yang tidak mereka miliki. Di sisi lainnya, ada juga penyakit Tuberculosis yang menjadi berat tersebut, pada saat ditanyakan mengapa tidak berobat, mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa mereka penyakit yang serius, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk berobat, hal ini disebabkan keluhan yang mereka rasakan hanya berupa batuk-batuk saja dan mereka beranggapan hal ini disebabkan karena terlalu letih bekerja, ataupun hanya batuk-batuk karena alergi, atau batuk-batuk karena stress menghadapi beban kehidupan, jadi mereka tidak tahu kalau mereka menderita penyakit yang serius. Ada lagi mereka yang telah mendapatkan pengobatan Tuberculosis, akan tetapi karena mereka setelah berobat selama 1 bulan mereka merasa jauh lebih baik, mereka merasa tidak perlu untuk melanjutkan pengobatan yang mereka terima, hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dari masyarakat dan juga kurang telaten tenaga kesehatan untuk menerangkan pengobatan yang harus dijalani oleh seorang penderita Tuberculosis, dimana begitu mereka merasa jauh lebih baik, mereka merasa telah sehat jadi tidak perlu mengkonsumsi obat Tuberculosis yang diberikan oleh Puskesmas atau juga petugas DOTS yang ada di masyarakat. Memang masalah kesehatan yang ada sangatlah kompleks dan membutuhkan orang yang peduli untuk memotong lingkaran setan yang ada di dalam masyarakat ini.
Penyakit yang ditangani pada Bakti Sosial Pengobatan Gratis "Kopassus Peduli" ini terutama merupakan penyakit yang telah biasa kita hadapi, terutama berhubungan dengan pola hygiene dari masyarakat tersebut. Penyakit itu antara lain adalah :
  1. Penyakit saluran napas.
  2. Penyakit saluran pencernaan.
  3. Penyakit kulit.
  4. Penyakit Tuberculosis.
  5. Penyakit degeneratif.
  6. Masalah psikososial.
  7. Dll.
Dari para pasien yang datang ke Bakti Sosial Pengobatan Gratis "Kopassus Peduli" ini dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa, mereka yang datang untuk berobat memiliki masalah yang berdasarkan pada :
  • Masalah kepedulian dan pengetahuan terhadap kesehatan yang kurang di dalam masyarakat, dimana mereka kadang-kadang sangat "ignorance" terhadap kesehatan mereka sendiri, sehingga penyakit yang mereka derita menjadi berat.
  • Masalah kemampuan ekonomi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, juga kurang, sehingga mereka cendrung untuk menunda-nunda untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, sampai penyakit yang mereka derita menjadi berat, baru pada saat diadakan Bakti Sosial Pengobatan Gratis mereka mengharapkan untuk mendapat kesembuhan, yang mana hal ini mungkin tidak dapat terjadi, karena penyakit yang mereka derita memerlukan tindak lanjut yang berkesinambungan untuk dapat sembuh seperti sedia kala, atau penyakit yang mereka derita menjadi terkontrol dengan baik.
  • Masalah penjagaan kebersihan dan kesadaran akan kebersihan pada masyarakat juga perlu diperhatikan, karena banyak penyakit yang dialami berhubungan dengan masalah kebersihan.
  • Masalah penyuluhan yang kurang tentang penyakit-penyakit menular seperti Tuberculosis, dimana sebagian besar dari masyarakat kurang mengetahui tentang penularan, perjalanan penyakit, serta penanganan penyakit tersebut, hal ini menunjukkan perlunya lebih digiatkan lagi penyuluhan oleh Badan yang terkait sehingga penyakit ini dapat kita redam.
Oleh karena itu diperlukan kerja sama dari semua pihak yang terlibat sehingga kesehatan masyarakat dapat menjadi lebih baik, dimana hal ini melibatkan usaha dalam "case finding", hal ini dapat dilakukan dengan cara Bakti Sosial Pengobatan Gratis seperti yang ktia telah laksanakan ataupun juga merangkul pihak lain yang memberikan pelayanan dalam bidang kesehatan seperti dokter praktek pribadi, balai pengobatan, klinik dokter jaga, yang untuk kemudian ditindak lanjuti oleh pihak yang terkait dalam hal ini, dimana disini yang sangat berperan adalah Dinas Kesehatan setempat dan Pemda setempat dengan lini terdepannya adalah "Puskesmas", sehingga kasus yang ada di masyarakat tersebut dapat di tindak lanjuti sehingga kesehatan bagi masyarakat golongan bawah ini tidak lagi menjadi suatu "Fatamorgana" yang ada di awang-awang. Karena tanpa adanya kerja sama yang baik dari semua pihak yang terlibat, semua yang kita kerjakan akan berakhir tanpa adanya suatu makna, yang akhirnya merupakan suatu "Fatamorgana" bagi masyarakat. (JFW)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar